Jangan Di Vaksin ?

Jangan Di Vaksin ?

Jangan di vaksin? Itulah kalimat yang beberapa minggu belakangan ini sering terdengar karena pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan pencegahan Covid 19 dengan melakukan vaksinasi ke seluruh masyarakat.

Vaksin Covid 19 pertama di Indonesia dikabarkan telah tiba pada bulan Desember 2020 buatan perusahaan Sinovac Biotech ini didtangkan secara bertahap menggunakan pesawat mulai dari 1.2 juta dosis pengiriman pertama.

Menurut health detik.com maraknya kabar vaksin COVID-19 pertama di Indonesia membuat sebagian orang penasaran. Salah satu hal yang sering ditanyakan adalah apakah vaksin aman digunakan, bebas dari efek samping berbahaya.

Sekretaris Eksekutif Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Dr dr Julitasari Sundoro, MSc-PH, menjelaskan memang ada efek samping dari vaksin COVID-19. Hanya saja efek samping yang dihasilkan tidak sampai membahayakan nyawa atau menimbulkan kecacatan.

“Misalnya efek samping lokal. Jadi nyeri pada tempat suntikan. Kita kan namanya dimasukkin jarum, dimasukkin vaksin, berarti ada reaksi lokal,” kata dr Julitasari dalam diskusi Tolak dan Tangkal Hoaks yang disiarkan kanal Youtube Forum Merdeka Barat 9 pada tanggal 7 Desember 2020.

“Ada juga reaksi sistemik, misalnya pegal-pegal kemudian demam ringan. Tapi itu sangat kecil karena vaksin yang tiba ini adalah vaksin yang inactivated, vaksin yang mati. Jadi efek sampingnya itu jauh lebih kecil dari vaksin-vaksin lain yang live attenuated atau vaksin-vaksin hidup,” lanjutnya.

Sebelum menerima vaksin, dr Julitasari menyarankan agar seseorang berada dalam kondisi sehat. Tujuannya agar tubuh bisa menerima vaksin dengan baik.

“Jangan sampai nanti vaksin ini jadi kambing hitam (efek samping -red). Padahal dia memang sedang sakit, masa tunas, atau masa inkubasi,” pungkas dr Julitasari.

Biro Kemahasiswaan Universitas Widyatama bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung, Rumah Sakit Kebonjati dan Masyarakat Peduli Tionghoa mengirimkan 30 (tiga puluh) perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Kemahasiswaan dan Organisasi Kemahasiswaan (LKOK) menjadi relawan petugas vaksin pada tanggal 15-19 Maret 2021 yang berlokasi di Yayasan Dana Sosial Priangan.

Menurut Kepala Biro Kemahasiswaan Universitas Widyatama Pipin Sukandi mengatakan kegiatan yang gagas oleh Pemerintah Kota Bandung yang meminta bantuan personel mahasiswa terutama dalam penginputan data untuk lansia yang akan divaksin adalah suatu hal positif dalam turut serta membantu memerangi pencegahan Covid 19 terutama di kota Bandung.

Selain memberikan wawasan dan pengalaman untuk mahasiswa diakhir kegiatan juga mereka diberikan vaksin sehingga ada perasaan tenang terlebih ada wacana dipertengahan tahun 2021 akan dilakukan perkuliahan secara offline menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Pemerintah pun tidak akan sembarangan dalam memberikan vaksin terutama jika melihat urutan yang divaksin mulai dari Presiden, tenaga kesehatan, artis, lansia sehingga itu dapat dijadikan contoh bahwa vaksin tersebut aman untuk diberikan tutur Pipin dalam penutupan kegiatan pemberian vaksin bagi lansia tersebut. [PS]